Jelang 5 Abad Jakarta, Kasepuhan Angke Minta Sejarah Jayakarta Ditempatkan Prioritas Utama

Jelang 5 Abad Jakarta, Kasepuhan Angke Minta Sejarah Jayakarta Ditempatkan Prioritas Utama

JakartaKeluarga Besar Srimangana Jayakarta II Kasepuhan Angke mendesak pemerintah memperkuat pelestarian sejarah Jayakarta di tengah transisi Jakarta menuju kota global. Seruan itu disampaikan dalam rilis resmi No: 003/JAYAKARTA-II/VI/2026, bertepatan dengan peringatan HUT ke-499 Kota Jakarta, Sabtu (21/6/2026).

Pernyataan resmi tersebut dibacakan usai Haul ke-449 Pangeran Jayakarta II atau Pangeran Tubagus Angke di Masjid Angke dan Makam Keramat Tubagus Angke, Tambora, Jakarta Barat. Hadir dalam haul itu perwakilan keluarga keturunan Kesultanan Banten, Cirebon, Demak, Mataram, Ternate, serta sejumlah tokoh nasional lintas kelompok.

Jayakarta Disebut Simbol Perlawanan Awal Kolonialisme

Dalam rilisnya, Keluarga Besar Jayakarta II menegaskan tanggal 22 Juni 1527 sebagai momentum penting sejarah Nusantara. Mereka memaknainya sebagai kemenangan pasukan Nusantara dalam menghadapi ekspansi kolonialisme modern.

“Jatuhnya Sunda Kelapa dan berdirinya Jayakarta menjadi simbol perlawanan terhadap ekspansi Portugis yang saat itu telah menguasai jalur perdagangan strategis Selat Malaka,” tulis pernyataan tersebut.

Disebutkan pula, sejarah Jayakarta berlanjut melalui kepemimpinan Pangeran Tubagus Angke sebagai tokoh penting pemerintahan awal Jayakarta II, yang diteruskan keturunannya hingga Jayakarta IV Achmad Jaketra di Jatinegara Kaum, Jakarta Timur.

Soroti Minimnya Perhatian pada Situs Sejarah

Keluarga Besar Jayakarta II menilai perhatian pemerintah terhadap situs dan tradisi sejarah Jayakarta masih perlu diperkuat. Menurut mereka, pelestarian sejarah tidak hanya soal bangunan atau situs, tetapi menyangkut identitas dan karakter kota.

“Jakarta sebagai kota global tidak boleh kehilangan akar sejarah dan kebudayaannya. Kota yang maju adalah kota yang tetap memahami perjalanan sejarahnya,” tegas rilis itu.

Mereka meminta pemerintah pusat dan Pemprov DKI memberi perhatian lebih besar terhadap pelestarian sejarah perjuangan Jayakarta. Situs seperti Makam Keramat Tubagus Angke disebut memiliki nilai penting dalam konteks sejarah nasional dan perlu dikaji melalui pendekatan sejarah, arkeologi, budaya, dan akademik.

Keluarga besar itu berharap Kementerian Kebudayaan bersama pemerintah daerah memperkuat kajian sejarah Jakarta agar generasi mendatang memahami akar peradaban kota ini.

Jangan Tinggalkan Sejarah di Era Kota Global

Menjelang lima abad Jakarta, Keluarga Besar Jayakarta II menyerukan agar seluruh pihak menjadikan sejarah sebagai bagian penting pembangunan kota.

“Melestarikan sejarah bukan berarti mundur ke masa lalu, tetapi menjaga fondasi identitas agar pembangunan Jakarta memiliki arah dan karakter,” tulis mereka.

Pihaknya berkomitmen terus menjaga nilai sejarah dan budaya Jayakarta sebagai bagian dari perjalanan NKRI. Mereka juga berharap peringatan sejarah Jayakarta menjadi agenda budaya yang lebih luas, tidak hanya di kawasan Angke tetapi menjadi bagian dari ruang publik Jakarta.

“Selamat Hari Jadi Jakarta ke-499. Jayakarta adalah bagian dari perjalanan panjang sejarah bangsa Indonesia,” tutup pernyataan yang ditandatangani Raden Mas T\ubagus Irfanata Dihardja Mertakusuma Al Qodiri, Ketua Keramat Kasepuhan Angke sekaligus Perwakilan Keluarga Besar Jayakarta II.

Lokasi: Makam Keramat Kasepuhan Angke, Jl. Pangeran Tubagus Angke, Gang Masjid I, Tambora, Jakarta Barat.