JAKARTA – Pendiri sekaligus penggerak Teater Nebula, Dian Mariyana, menilai seni teater memiliki peran strategis sebagai media edukasi sejarah, khususnya untuk memperkenalkan perjuangan dan pemikiran para tokoh perempuan Indonesia kepada generasi muda.
Menurut Dian, perjuangan perempuan Indonesia memiliki perjalanan panjang yang tidak hanya berkaitan dengan emansipasi, tetapi juga pendidikan, kebudayaan, sosial, dan pemberdayaan masyarakat. Namun, kisah perjuangan sejumlah tokoh perempuan masih belum banyak diangkat menjadi karya pertunjukan teater.
Puluhan bahkan ratusan naskah lakon telah lahir dari para penulis Indonesia. Namun, kisah para pahlawan perempuan seperti R.A. Kartini, Dewi Sartika, Cut Nyak Dien, hingga Nyai Ahmad Dahlan atau Nyai Siti Walidah masih memiliki ruang luas untuk dieksplorasi melalui panggung pertunjukan.
“Sejarah perjuangan perempuan Indonesia sangat kaya. Sayang jika kisah-kisah itu hanya dikenal melalui buku pelajaran atau sekadar nama yang tercantum dalam sejarah. Teater bisa menghadirkan sisi kemanusiaan, pergulatan pemikiran, keberanian, dan pengorbanan mereka secara lebih dekat kepada penonton,” ujar Dian saat ditemui di Kopi Banjoemas, kawasan Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Jumat (6/11/2026) sore, menjelang peringatan Hari Pahlawan 10 November.
Dian mencontohkan sosok Cut Nyak Dien yang dikenal melalui perjuangannya melawan kolonialisme. Namun, menurutnya, masih banyak sisi kehidupan dan keteguhan perjuangannya yang dapat digali sebagai sumber inspirasi bagi perempuan masa kini.
Selain itu, Dian juga menaruh perhatian pada perjuangan Nyai Siti Walidah, tokoh perempuan yang memiliki kontribusi besar dalam membangun kesadaran pendidikan dan pemberdayaan perempuan melalui gerakan 'Aisyiyah.
Nyai Siti Walidah dan Siti Bariyah, Perjuangan yang Dihidupkan Kembali
Sebagai bentuk nyata dari gagasan tersebut, LSB Muhammadiyah DKI Jakarta tengah mempersiapkan pementasan yang mengangkat kisah perjuangan Nyai Siti Walidah dan perjalanan gerakan perempuan pada masa awal berdirinya 'Aisyiyah.
Pementasan berjudul “Nyai Siti Walidah: Pembuka Jendela” tersebut dijadwalkan berlangsung pada 12 November 2026 di Teater Besar Taman Ismail Marzuki.
Pementasan ini diproduksi oleh LSB Muhammadiyah dengan karya dan arahan sutradara Prof. Dr. Moch. Imamudin, M.M., M.Sc., M.Psi.
Dalam produksi tersebut, Dian Mariyana turut mengambil peran sebagai Siti Bariyah, tokoh yang dikenal sebagai ketua pertama 'Aisyiyah. Melalui peran ini, Dian tidak hanya menjalani proses artistik sebagai aktor, tetapi juga berupaya memahami karakter, pemikiran, serta dinamika perjuangan perempuan pada masa tersebut.
Siti Bariyah merupakan sosok penting dalam perjalanan awal organisasi 'Aisyiyah. Kehadirannya menjadi bagian dari sejarah kepemimpinan perempuan dalam gerakan sosial dan keagamaan di Indonesia.
Bagi Dian, memerankan tokoh sejarah bukan pekerjaan yang berhenti pada menghafalkan dialog dan membangun karakter di atas panggung. Ada tanggung jawab untuk memahami latar belakang sejarah, membaca pemikiran tokoh, serta menyampaikan nilai perjuangannya secara tepat kepada penonton.
“Ketika kita memerankan tokoh sejarah, kita tidak sekadar mengenakan kostum dan mengucapkan dialog. Kita harus memahami apa yang diperjuangkan, apa yang dipikirkan, dan tantangan apa yang mereka hadapi. Dari situ kita bisa menemukan nilai-nilai yang relevan dengan kehidupan perempuan hari ini,” ungkapnya.
Ia menilai kisah Nyai Siti Walidah dan Siti Bariyah sangat menarik untuk diangkat karena memperlihatkan bahwa perjuangan perempuan tidak selalu dilakukan melalui perlawanan fisik.
Perjuangan juga dapat diwujudkan melalui pendidikan, pengorganisasian, keberanian mengambil keputusan, membangun kemandirian, serta membuka kesempatan bagi perempuan lain untuk berkembang.
Menurutnya, nilai-nilai tersebut tetap relevan bagi generasi sekarang, terutama ketika perempuan dan anak muda menghadapi berbagai tantangan sosial dan perubahan zaman.
Teater sebagai Ruang Ekspresi dan Pendidikan Generasi Muda
Lebih jauh, Dian berpandangan bahwa teater bukan hanya ruang ekspresi seni, tetapi juga sarana pembentukan karakter.
Proses produksi teater mengajarkan kedisiplinan, tanggung jawab, kerja sama, keberanian berpendapat, serta kemampuan memahami sudut pandang orang lain.
Keterlibatan perempuan dalam proses kreatif, baik sebagai pemain, penulis, sutradara maupun bagian dari tim produksi, juga dapat menjadi ruang untuk membangun kepercayaan diri dan mengembangkan potensi.
Dian menegaskan bahwa pelestarian budaya tidak cukup dilakukan dengan memperkenalkan kesenian tradisional. Mengangkat sejarah bangsa dan perjuangan para tokoh melalui seni pertunjukan juga merupakan bagian dari upaya merawat kebudayaan sekaligus membangun kesadaran sejarah masyarakat.
Ia berharap semakin banyak penulis naskah, komunitas teater, dan pegiat seni yang berani mengangkat kisah tokoh-tokoh perempuan Indonesia ke dalam karya pertunjukan.
Dengan demikian, panggung teater dapat menjadi ruang pertemuan antara sejarah, seni, dan pendidikan.
Mengajak Generasi Muda Menjadi Penerus Semangat Perjuangan
Momentum Hari Pahlawan 10 November, menurut Dian, seharusnya tidak hanya menjadi kegiatan seremonial untuk mengenang jasa para pejuang.
Lebih dari itu, momentum tersebut perlu menjadi kesempatan untuk memahami kembali nilai perjuangan dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Ia mengajak perempuan dan generasi muda agar tidak hanya mengenal nama para pahlawan, tetapi juga mempelajari gagasan, keberanian, serta kontribusi mereka bagi bangsa.
“Anak muda memiliki energi, kreativitas, dan cara pandang yang luar biasa. Saya ingin mereka tidak hanya menjadi penonton sejarah, tetapi juga menjadi bagian dari orang-orang yang menjaga dan meneruskan nilai perjuangan itu. Salah satunya melalui seni dan kebudayaan,” tuturnya.
Dian menyatakan Teater Nebula akan terus berupaya menghadirkan karya-karya yang memiliki nilai edukasi, sejarah, dan kemanusiaan.
Baginya, panggung pertunjukan dapat menjadi media untuk mempertemukan generasi masa lalu dengan generasi masa kini.
Sebab, menurut Dian, pahlawan tidak cukup hanya dikenang. Pemikiran, keberanian, dan nilai perjuangannya harus terus dihidupkan agar menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya.

0 Comments
Posting Komentar